Ibadah sering kali dipahami hanya sebatas ritual seperti salat, puasa, atau zakat. Namun, tahukah Anda bahwa hakikat ibadah jauh lebih dalam dan esensial? Artikel ini akan mengupas tuntas makna ibadah, tujuan di baliknya, dan bagaimana melakukannya dengan benar sesuai tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Mengapa Kita Beribadah? Ini Bukan untuk Kepentingan Allah!
Allah SWT menciptakan jin dan manusia semata-mata untuk beribadah kepada-Nya, seperti yang ditegaskan dalam firman-Nya:
Q.S. al-Dzâriyât: 56
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”
Lalu, apakah Allah membutuhkan ibadah kita? Jawabannya tidak. Allah Maha Kaya dan tidak membutuhkan apa pun dari makhluk-Nya. Ibadah yang kita lakukan sepenuhnya untuk kebaikan diri kita sendiri, baik di dunia maupun di akhirat.
Q.S. al-Dzâriyât: 57-58
مَآ أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ ٥٧ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
“Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah, Dia-lah Maha Pemberi Rizki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.”
Q.S. Fushilat: 46
مَّنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِۦۖ وَمَنْ أَسَآءَ فَعَلَيْهَاۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri…”
Allah memerintahkan kita beribadah ibarat seorang ibu yang menyuruh anaknya mandi. Perintah tersebut bukan untuk kepentingan si ibu, melainkan demi kebersihan dan kesehatan si anak. Sama halnya dengan perintah ibadah, semua perintah Allah adalah demi keselamatan dan kebaikan hamba-Nya.
Definisi Ibadah: Lebih dari Sekadar Ritual
Secara bahasa, ibadah berarti merendahkan diri dan patuh. Namun, secara syariat, ibadah memiliki makna yang lebih luas.
Ibadah ialah: “Mendekatkan (diri) kepada Allah SWT, dengan cara mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, serta beramal sesuai dengan kewenangan (izin) syara’.”
Definisi ini mencakup dua aspek penting:
- Ibadah Mahdhah (ritual): Ibadah yang tata caranya sudah ditentukan secara detail oleh syariat, seperti salat, puasa, haji, dan lainnya.
- Ibadah Ghairu Mahdhah (sosial): Semua perbuatan baik yang dilakukan dengan niat karena Allah, seperti mencari nafkah yang halal, berbuat baik kepada orang tua, menolong sesama, dan menjaga lingkungan.
Semua amal perbuatan, baik ritual maupun sosial, akan menjadi ibadah jika diniatkan dengan ikhlas hanya karena Allah dan dilakukan sesuai dengan tuntunan-Nya.
Ikhlas dan Sesuai Sunnah: Kunci Diterimanya Amal
Ada dua syarat utama agar ibadah kita diterima oleh Allah: ikhlas dan sesuai dengan tuntunan As-Sunnah.
1. Ikhlas: Beribadah Hanya untuk Allah Ikhlas artinya membersihkan niat dari segala hal selain Allah SWT. Ibadah yang dilakukan tanpa keikhlasan tidak akan diterima.
Q.S. al-Bayyinah: 5
وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعْبُدُواْ اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ الصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُواْ الزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…”
2. Sesuai Tuntunan As-Sunnah: Mengikuti Ajaran Rasulullah SAW Ibadah haruslah berdasarkan petunjuk yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, bukan berdasarkan akal, perasaan, tradisi, atau pemahaman dari guru/organisasi semata.
Q.S. al-Nisâ: 59
يٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ اللَّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلْأَمْرِ مِنكُمْۖ فَإِن تَنٰزَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya)… Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (As-Sunnah).”
Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam beribadah. Beliau tidak pernah berlebihan atau mengurangi syariat, dan beliau bersabda:
“Barangsiapa yang membenci sunnahku, maka ia bukan dari golonganku.” (H.R. al-Bukhâri)
Hal ini menegaskan bahwa ibadah harus dilakukan sesuai dengan apa yang diajarkan dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, tidak boleh ditambah-tambah atau dikurangi.
Perbedaan Ibadah dan Muamalah
Sering kali terjadi kesalahpahaman antara ibadah dan muamalah (urusan duniawi). Perlu diingat bahwa:
- Prinsip Ibadah: Dasar ibadah adalah batal (tidak sah), kecuali ada dalil (perintah) yang jelas dari Allah dan Rasul-Nya.
- Prinsip Muamalah: Dasar muamalah adalah boleh (halal), kecuali ada dalil yang melarang atau mengharamkannya.
Dengan memahami prinsip ini, kita tidak akan terjebak dalam bid’ah, yaitu melakukan ibadah yang tidak ada tuntunannya.
Semoga dengan artikel ini, kita dapat menjalankan ibadah dengan pemahaman yang lebih dalam, hati yang ikhlas, dan cara yang benar sesuai petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dengan begitu, ibadah kita akan menjadi jalan untuk meraih keselamatan dan kebahagiaan sejati.
Mari tingkatkan ibadah sosial kita dengan berinfak. Salurkan infak terbaik Anda melalui https://masjidquwwatulislam.or.id/ untuk membantu kemaslahatan umat.